Sabtu, 19 Desember 2015

Cerita dari Bentukan Dimensi

Gelap pekat lengket menempel di belahan bumi ini. Melalui senja, malam menempati posisi siang, bulan menempati posisi mentari. Meski begitu, merah saga padanya dihalangi gumpalan gelap yang menggantung di bawahnya. Namun, matanya yang semu masih menatap sayu kepadaku. Kuyakin ia tak mampu menyalahkanku seperti aku tak bisa menyalahkannya.
Kalau saja aku juga mampu menutupi merah yang menyelimuti pikiranku. Merah yang ketika aku mengedipkan mata, itu muncul. Bau anyir menguap darinya. Entah bagaimana itu terjadi, padahal tinggal aktivitas neuron dalam kepalaku. Mereka mengalir seperti listrik.
Itulah kenapa aku datang. Padahal jauh di sana mereka bersenang-senang. Menikmati brownies lezat bersama dengan wine di tangan mereka, juga berdansa riang bersama kekasih cantik mereka. Di tempat aku pernah berbaur. Namun kini aku yakin itu bukan tempat yang baik untuk bersatu, bukan juga tempat berindu.
Segala warna di bawah maupun di atasnya luntur. Cipratan dari sang mentari tak memiliki arti. Sesekali ia mengecatnya kembali, ketika elektron di sana bergerak dengan cepat. Pengikutnya, petir, menjadi penegas keberadaannya.
Ketika itu pistol mulai terlepas dari genggamanku. Lagi-lagi itu terwujud sebagai aktivitas neuronku. Merah. Bercucuran dari lubang yang tercipta tidak lebih dari satu detik. Lebih sering dari yang bisa kau bayangkan. Itu mengacaukan otakku, atau mungkin juga hatiku.
Inilah yang kucari. Ketika ia menangis, ia menjadi refleksi hatiku. Bersamanya aku menatap laut di bawahku. Laut yang menyerukan panggilannya dengan gulungan ombak. Ia berkecipak menampar batuan. Ia memanggilku, memanggil hatiku.
Hmmm, hati. Bagaimanapun orang memberitahuku, aku tetap tak mampu membedakan dua hal: hati dan pikiran. Bukankah hati hanya perwujudan dari pikiran? Aliran impuls, sinapsis, neurotransmitter, itu semua menjadi inti dari perasaan manusia bukan? Sementara, hati sejatinya adalah organ untuk mencucurkan empedu, juga menetralkan racun. Bahkan orang-orang menunjuk dada ketika mengatakan hati, padahal itu tempat jantung berdetak mengikuti detik. Sebegitu abstrakkah manusia?
Yah, dia telah telah pergi. Tak ada lagi yang bisa mengingatkanku.
Kala itu laut juga menyerukan panggilannya. Dengan ombaknya, ia menampar airnya sendiri. Dengan angin yang bagai jarum, senja menusuk kulitku. Tapi pasti lebih menyakitkan ia yang kulitnya tertembus peluru, yang tubuhnya menjadi sarang berikutnya setelah pistol ini.
Lagi-lagi merah bercucuran. Ia belum sempat mengucapkan selamat tinggal pada dunia. Dalam rinai hujan dan keheningan, ia terjatuh. Darahnya menggenang bersama air, beriak ditetesi air lainnya. Matanya masih memelototi dunia, tapi aku yakin hanya kegelapan yang merangsang sarafnya.
Bagaimanapun, aku menyelamatkannya dari rasa sakit. Tubuhku juga digoresi luka sebagaimana papan tulis digores kapur. Pistol yang terlepas dari tanganku diterima oleh genangan air. Aku membutuhkan kedua tanganku untuk mengangkat dan membuangnya ke jurang. Ombak tak segan-segan buka mulut memakannya. Napasku berhembus cepat, tapi tak lebih cepat dari detak jantungku. Kurasakan tetes darah mengalir dari dahi hingga kaki. Aku pergi.
Hujan masih riuh. Dengan irama musik roknya, angin mengiringi jogetan pepohonan. Senja seperti menghina diriku yang sedang berdiri di balik papan transparan ini. Lukaku telah dibasuh oleh air mata langit yang baik hati, meski ia begitu karena bertanya, ”Bagaimana kau tega melakukan semua itu?”
Aku tak peduli. Sebuah belaian di rambut kutitipkan untuk putriku, begitu juga kecupan di keningnya. Pelupuk mataku hampir tak tahan membendung air yang menekan. Itu lebih kuat dari tekanan osmosis yang mampu melisis sel. Tangannya ditusuk jarum, mulut dan hidungnya dibungkam, bagaimana aku tahan? Hidup matinya bergantung pada benda-benda yang mengitarinya. Seolah tak ada lagi aliran impuls yang indah dalam neuronku.
Pintu terbuka. Wanita berseragam putih itu tak menyadari keberadaanku di sana. Ya, aku telah melompat ke jendela sebelum itu terjadi. Ia memeriksa jendela yang terbuka. Gerakanku yang seperti angin tentu takkan disadarinya. Menghilang, itulah modeku.
Jemariku membenahi dasi merah yang kukalungkan. Ujungnya terselip di dalam jas hitam tanpa kerutan ini. Gedung cukup tinggi tegak berdiri di depanku, menjadi tujuanku. Pintu berdaun duanya kemudian diikuti beberapa pintu otomatis. Aku tak merasakan sengatan dalam diriku seperti dorongan untuk mundur. Aku bahkan tak setuju bahwa apa yang kulakukan ini salah. Pintu itu telah berhadapan denganku.
Kuselipkan tanganku ke dalam jas. Kotak hitam kecil, itulah yang kudapatkan. Sebuah bola mata tersimpan di dalamnya. Mata yang telah terlepas dari kepala busuknya yang akan lebih busuk. Kode tersimpan di dalamnya, terbaca bila laser merah telah melewati pupil di tengah iris hitam itu. Kode berwujud kombinasi unik penyusun retina kemudian dienkripsikan sebagai angka-angka tertentu. Dengan begitu, pintu itu mempersilahkanku masuk.
Udara terasa menangis. Ia memberi sentuhan dingin di seluruh permukaan kulitku. Namun ia kehilangan air matanya. Kau harus menyalahkan mesin yang menempel di dinding itu, udara. Karenanya ia mengubah kecenderungan alam. Seharusnya kalor bergerak menuju temperatur rendah. Karenanya kau kehilangan titik-titik kecil air matamu. Seharusnya aku lebih merasakan tangisanmu. Masa bodoh. Mesin itu membuatku tak acuh.
Loker demi loker kubuka. Laci demi laci kuseret. Ia cukup mahir bermain petak umpet, tak kusangka. Fajar, dapatkah kau memahamiku lebih dari senja?
Untuk apa aku memahamimu? Aku mengerti perasaan senja. Ia memahamimu, ia menangis untukmu, tapi ia selalu melihatmu menghancurkannya. Dapatkah kau sedikit saja memahami makna sesungguhnya dari kehidupan ini?” kata fajar.
Apa perlumu berbicara untuk senja, fajar? Kalian berdua adalah hal yang berseberangan. Kalian berdua tidak pernah bertemu. Senja membawa malam, sementara fajar mengusir malam. Tak ada faedah bagimu berbicara untuknya. Bahkan tak ada konsepsi yang mampu menjelaskan kau seharusnya berbicara. Kalian bukan keberadaan yang tersusun atas karbon. Kalian tak memiliki saraf untuk merasakan. Kalian adalah bentukan dari dimensi, persepsi dari putaran bumi, sebuah massa yang tak ada apa-apanya di dalam lautan ruang ini.
Bukankah begitu sebaiknya kau memahami dunia? Kau hanya bentuk kecil yang berjalan di dalam dimensi, termasuk waktu. Kau hanya melihat aliran di depanmu, bukan di belakangmu. Aku adalah salah satu utusan sekaligus bentukan dari dimensi itu. Begitu pula senja dan kami semua. Kau selalu mengotori aliran waktu dengan tanganmu yang telah kotor dengan darah.
Dor! Begitulah bunyi propelan dalam senjata pada genggaman tangan kiriku, membuat proyektil terlepas dari selongsong. Energi kinetiknya disalurkan dengan menembus dada pria yang kedatangannya kusadari dengan cepat. Jaringan yang sobek karenanya memuntahkan darah.
Koper berlumur darah bawaannya memberiku sesuatu; benda yang cocok dipasangkan dengan benda lain di atas meja. Benda itu memancarkan laser hijau, lurus mengarah ke tembok. Di sampingnya, terbuka lubang persegi. Tabung kecil berisi cairan merah bersembunyi di sana. Melesat bagai angin, menghilang bagai hantu, itulah yang kulakukan setelah mendapatkannya.
Matahari sudah naik. Dia memelototiku begitu bengisnya. Sepertinya fajar mengadu padanya. Ia merambat sangat cepat hingga secepat apapun aku menghindar, ia menangkapku. Tentu saja karena ia tak perlu melalui sinapsis atau dibungkus nodus renvier untuk bergerak. Kau tak perlu menunjukkan rasa sakit seperti itu, siang. Aku telah merasakan yang jauh lebih pedih. Rasa itu selalu bersarang dalam ingatanku, seperti kalsium mengendap dalam ginjal.
Pria berjas hitam datang, duduk di seberangku. Rambutnya sewarna dengan giginya. ”Jadi, kau kembali di kehidupan lamamu? Apa kehidupan sipil tidak cocok?” kata pria itu.
”Aku tidak bisa terlepas dari itu, Dokter. Seperti jantung yang tidak bisa terlepas dari tubuh. Meski kau telah menarikku dari sana, jantung tetaplah jantung. Aku bahkan masih tak paham. Bagaimana sarjana kedokteran sepertiku bisa masuk ke sana?”
”Kau tidak memiliki trauma pada peperangan, kau justru merindukannya. Dalam kehidupan sipilmu pun, semua itu tetap mengitarimu. Sepertinya itu telah diatur dalam genmu.”
”Genom berisi rangkaian kode yang disusun oleh DNA. Apakah penderitaan juga diatur di sana? Setahuku itu hanya mengatur bentuk biologis kita sebagai makhluk hidup. Aku tidak yakin ada unit yang mengatur susunan manusia sebagai manusia.”
”Ada. Hatimu. Jangan bilang hati yang kumaksudkan adalah liver. Hati adalah persepsi dari pikiran, bentukan dari otak, aktivitas neuron, juga hormon-hormon dalam tubuhmu. Dopamin akan memberimu rasa bahagia. Tapi, melalui apa kau merasakan bahagia? Hatimu.”
”Tidakkah itu memerlukan kerja ganda?” tanyaku.
”Saat kau bergerak, sistem koordinasimu melakukan kerja ganda, dan itu lebih mudah, kan? Manusia memerlukan persepsi subjektif bagi diri mereka, seberapa abstrak pun itu. Tapi, manusia sebagai manusia memang dibentuk oleh berbagai probabilitas dan ketidakpastian, dan itu memang terasa abstrak bagi seseorang sepertimu.”
”Bagaimana dengan dirimu sendiri, Dokter? Apa kau benar-benar bisa merasakannya?”
”Aku memang bukan sepertimu, agen ganda yang diincar semua orang, tidak memiliki teman di dunia nyata, tapi kita berdua sama-sama memercayai konsep pasti yang disusun berdasar logika. Hanya saja kau masih dihitung baru dalam bermain-main dengan konsepsi abstrak seperti itu. Kita berdua sama dan itulah alasan aku memahami perasaanmu, cintamu pada istri dan putrimu. Itulah kenapa aku akan berusaha membantumu sepenuhnya.”
Aku membungkam diri, merogoh ke balik jas hitamku. Tabung kecil berisi cairan merah, itulah yang kudapatkan.
Sang dokter segera menyembunyikannya di balik jas hitamnya segera setelah tabung itu berpindah tangan. ”Baiklah. Temui aku ketika matahari di ufuk barat.” katanya sambil berdiri, kemudian melangkah pergi.
Setelah melakukan apa pun yang kuperlukan, lagi-lagi aku datang kemari, ke tempat di mana aku bisa bercerita sepenuh hati. Matahari cenderung di barat, di hadapanku. Ombak riang gembira bergulung di bawahku, menampar tebing ini dan tak merasakan sakit. Kalau saja itu juga berlaku untukku, aku bisa bebas melakukan aksi apa pun tanpa merasakan sakit.
Kalau aku melihat masa lalu, selalu merah. Aku tak memiliki perasaan khusus soal itu. Merah telah memenuhi kehidupanku. Bagaimana pun aku mencari kesenangan, berbaur di mana pun, itu tak pernah lepas. Aku berpikir aku mencari kesenangan, tapi kini aku sadar bukanlah kesenangan yang kudapat.
Mengenakan jas hitam, masuk ke tempat di mana semua orang saling sulang, beberapa sengaja meredupkan kesadaran demi kesenangan. Itu juga berlaku bagiku, apalagi ketika berurusan dengan orang-orang serius yang juga menyukai kesenangan ilusi. Melompat ke sana kemari, menciptakan teman, kemudian mengubahnya menjadi pembenci. Seolah itu semua unsur dari kesenangan, padahal pada kenyataannya kebahagiaan memiliki nilai lebih.
Matahari semakin jatuh, ombak semakin riuh. Kenapa kau mengecat langit dengan warna merah? Itu warna yang menyakitkan.
Sudah sejak dulu kita berbicara. Aku terus mendengar ceritamu, begitu pula denganmu. Padahal kita membicarakan hal yang sama. Entah kenapa ini terjadi khusus untukmu. Tapi, aku lebih tahu darimu. Kau adalah keberadaan yang mengikuti aliranku.” kata senja.
Kupejamkan sejenak mataku, kemudian bangkit.
Rumahku tak jauh dari tepian laut ini. Ia berdiri sendiri. Dulu aku memiliki rumah, sederhana. Kemudian mengikuti arus kehidupanku, rumahku ter-upgrade. Tapi, hidupku berubah lagi. Kini ia dipakai oleh orang yang cukup kaya dengan ganti beberapa lembar uang untukku. Saat itulah aku mendengar seruan laut. Itu bukan semacam gelombang berfrekuensi tinggi seperti cara lumba-lumba berkomunikasi. Di ujung sana, surya dengan lingkaran sempurnanya berbicara padaku. Ini lebih seperti konsep abstrak yang kususun sendiri. Mungkin ini adalah pengganti hati. Sejak itulah percakapanku dengan bentukan-bentukan dimensi dimulai.
Kini rumahku menjadi cukup kecil. Berdiri sendiri di antara hamparan tanah bercampur pasir serta tumbuh-tumbuhan kecil. Di sanalah aku mengisi hidupku bersama putriku ketika istriku pergi. Tidak, bukan pergi. Ia direnggut dariku. Itu hasil dari sisa kehidupanku dulu yang tak bisa terlepas. Seperti hidupku telah mengendap di sana.
Gelap mengisinya. Tapi aku lahir dari bayangan. Aku bisa melihat cukup jelas di dalamnya. Aku merasakan keberadaan energi termal di sana. Ia hanya menamakkan wujudnya sebagai bayangan, tapi aku tahu siapa itu.
Keberadaannya, perasaannya, keinginannya, seolah aku bisa tahu semua itu. Padahal para bentukan dimensi mengatakan aku tak akan bisa melihat arus di belakangku. Aku sadar semua hal ada sebagai akibat dari suatu sebab, reaksi dari aksi, tapi entah kenapa ini terjadi begitu saja.
Tapi aku ingat mereka juga mengatakan adanya hal spesial dalam hidupku. Seolah aku bisa berada di belakang diriku sendiri dan melihat arus itu. Sesuatu bergelayut dalam benakku, menjadi faktor pengaruh dalam aktifitas neuronku, tapi aku belum memastikan itu apa.
”Kau ada karena suatu alasan. Aku tidak ingin kau mengingkari alasan itu.” katanya.
Konsep logis manusia sebagai makhluk hidup, serta konsep abstrak manusia sebagai manusia, sepertinya itu akan berpuncak di sini. Kata-kata itu tak cukup pantas untuk diucapkan oleh nonpencipta. Tapi, itu menyirat makna yang dapat membuat jembatan kehidupan yang kubangun selama ini runtuh. Membuat merah dalam hidupku terasa kembali nyata. Apakah kehidupanku hanya untuk kematian orang lain?
”Klon.” katanya.
Benar saja, jembatan itu runtuh dalam hati yang rapuh. Apa arti kehidupanku selama ini? Segala pemikiran, konsep, persepsi kini membuka topeng mereka. Dan kau tahu apa yang kulihat? Tak ada apa pun di sana. Aku bahkan mulai mempertanyakan apakah aku sebenarnya sarjana kedokteran. Namun apa gunanya. Kumantapkan mataku yang terbelalak dan melompat kepadanya dengan pisau dari sakuku.
Lampu menyala dan itu membuatku berhenti, membeku. Aku berada pada triple point dalam diagram fasa. Takut, sedih, dan senang, itu ada bersamaan. Aku tak mampu memutuskan ke mana diriku seharusnya, melihat putriku diikat di kursi, namun ia tampak sehat. Terlebih lagi, pistol ditodongkan kepadanya. ”Aku memiliki kehidupanku sendiri, Dokter.” kataku.
”Kau seharusnya menjadi pionku. Kau tak seharusnya merasakan kasih sayang. Akulah, manusia sejati yang pantas merasakannya. Kau diproses di dalam tabung. Konsep abstrak itu seharusnya dihapuskan darimu. Aku lebih membutuhkan formula itu untuk memenuhi kebutuhanku akan konsep itu. Tapi kau malah menukarnya dengan yang palsu dan menggunakannya sendiri.”
Aku mengernyitkan kening dan seolah semua energi potensial terkumpul dalam satu titik. Kekuatan, kecepatan, kelincahan adalah aspek jasmani manusia yang kupegang erat. Kemudian aku melepaskannya seraya melepas pisauku, meluncur ke pistol itu, menghancurkannya. Keterkejutannya membuatnya tak menyadari tinjuku mengarah ke pipi keriputnya.
***
Yah, di sinilah aku. Ditemani riuh hujan yang bercampur aduk gemuruh ombak serta sang utusan kilat. Merah telah memenuhi hidupku. Bahkan itu juga terjadi beberapa menit yang lalu. Namun sepertinya bentukan dimensi tak mampu lagi menyalahkanku. Kini aku menyadari rahasia yang terkandung di dalamnya. Apakah aku mampu melanjutkan hidupku lagi?
Diriku yang datang dari aliran di belakangku telah memberiku konsep itu, meski kini alam telah memilih. Namun aku masih bertanya-tanya; apakah konsep logis dan persepsi abstrak itu berkaitan erat? Gen yang kubawa darinya tentu memengaruhi morfologi, fisiologi, serta anatomi tubuhku. Tapi, hati adalah unit lain. Apakah perasaannya juga terkandung dalam tubuhku?
Kubuka tanganku yang sedari tadi menggenggam. Istri dan putriku yang manis, kalian ada di sana. Kupikir, inilah kebahagiaan yang ditimbulkan dari persepsi abstrak itu. Aku tersenyum.

0 Komentar:

Posting Komentar

Who am I

Arsyad M. D.
amdzulqornain@gmail.com