Senin, 17 Oktober 2016

Batu Alpat



Di dunia ini, setiap hal selalu diatur oleh hukum alam. Alam menciptakan keteraturan agar segalanya mudah dipahami. Melalui itu, suatu fenomena dapat diprediksi. Apabila tak ada gaya yang mengangkat suatu benda, benda akan jatuh. Begitu juga fluida yang alirannya dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Namun, hukum itu tak berlaku di sini. Kau akan mendapati air mengalir dari bawah ke atas, seolah air terjun yang terbalik.
Tempat ini ramai dikunjungi orang. Mereka datang untuk merasakan kesegaran airnya atau sekedar menikmati pesona yang hanya satu-satunya. Di antaranya adalah pepohonan yang tinggi, tempat di mana kelelawar pulang ketika fajar menyingsing. Itulah alasan tempat ini baru diketahui orang. Entah sudah berapa lama ia menyimpan pesonanya untuk sendiri. Namun, seorang di antara mereka menolak pernyataan itu dengan berkata, ”Aku pernah melihatnya sebelum kalian menemukannya, tapi aku lebih memilih untuk diam dan tak memberitahukannya kepada siapa pun. Aku memiliki alasan untuk itu.”
Berjalan mondar-mandir adalah hal yang ia lakukan ketika mereka menemukannya. Sesekali ia meremas kepalanya sendiri. Sesekali terdengar brak! yang keras dari pertemuan tinjunya dengan meja. Sesekali ia menggeram seperti harimau. ”Teman-teman, ayolah, apa kalian punya ide?” tanyanya kepada dua orang temannya yang mengelilingi meja.
Keduanya saling pandang. Sesekali mereka menatap lembar peta raksasa di meja itu. Terdapat beberapa garis pensil di sana. Garis-garis itu berpotongan di Pulau Jawa.
”Apakah kau benar-benar yakin soal ini?” tanya salah satu temannya.
”Tentu saja. Aku meyakini keberadaannya begitu lama dan kini muncul sesuatu yang berlawanan dengan hukum yang biasanya kita kenal. Apa lagi penyebabnya kalau bukan itu?”
”Itu masih belum terlihat seperti dunia kuantum.” kata temannya yang lain.
”Memang masih belum. Tapi, kalau kekuatannya dibangkitkan, apa jadinya dunia ini? Tak seorang pun boleh menemukannya.”
Hari semakin larut dan tak ada kesimpulan dari pertemuan mereka. Ini memang masalah yang rumit. Apalagi, ia pernah mengenal seseorang. Orang itu jauh lebih tua darinya yang baru diwisuda sarjana seminggu yang lalu. Orang itu juga memiliki keyakinan, obsesi seperti dirinya. Hanya saja, mereka seperti sebuah koin di mana kedua sisinya tidak akan saling bertemu.
Kedua temannya telah tidur, namun dirinya tidak begitu, seolah tak bisa merasakan kantuk, tak sadar bahwa waktu terus berjalan. Ia masih sibuk mencorat-coret kertasnya. Begitu banyak angka, grafik, diagram, serta sketsa terlukis di sana. Ketika satu kertas telah penuh, ia mengambil lagi dari tumpukan di depannya, yang jumlahnya lebih dari dua rim.
Kertas bercoret tintanya semakin menumpuk. Sesekali ia melirik ke laptopnya, dan ketika itu ia mendapati adanya panggilan video. Terlonjak, ia segera melepaskan penanya dan beralih pada panggilan itu.
”Hai, Azka. Kenapa kau terlihat terkejut seperti itu?” kata pria dalam video itu. Dengan wajah penuh kerut dan rambut seputih salju itu, tatapannya masih pasti.
”Professor Fadhlan, apa yang Anda inginkan?” Azka mengerutkan kening.
”Kuharap kau sendiri di sana. Aku ingin bicara denganmu sebagai sesama ilmuwan. Kita meyakini bahwa segalanya didasarkan pada sains, bukan? Begitu pula dengan mitos. Mereka nyata, ilmiah, hanya saja masih memerlukan penjelasan. Dulu seorang dewa turun dan meninggalkan kekuatan yang sangat besar di bumi.”
Azka lebih terperanjat lagi. Ekspresinya terbaca dengan jelas meski melalui kamera.
”Jangan terkejut seperti itu, Azka. Kau hebat bisa menemukannya lebih dulu dariku. Kuharap kau menyambutku dengan baik besok.”
”Professor, apa Anda telah lupa bagaimana dampak yang dibawanya? Bagaimana ia menenggelamkan sebuah negeri, menjadikannya tak bersisa?”
”Atlantis tidak bisa membuat reaktor seperti yang aku desain. Mereka terlalu ceroboh. Tapi, aku tidak. Semua telah kupersiapkan dengan matang.”
”Itu memengaruhi pikiran Anda. Anda bahkan terpengaruh sebelum benar-benar melihatnya. Orang-orang di generasi awal menemukannya. Pikiran mereka kacau. Mereka menyimpan batu itu cukup lama. Dari hanya menjadikannya sebagai hiasan, kemudian memujanya, kemudian menuhankannya. Lahirlah para penyembah berhala.”
”Sudah kubilang, Ka. Aku telah mempersiapkan semuanya dengan sungguh-sungguh. Jangan berpikir aku sebodoh mereka. Bayangkan saja apa manfaat yang bisa kita dapat dari kekuatan tak terbatas itu. Manusia memerlukan inovasi untuk tetap bertahan. Jangan membuangnya begitu saja ketika kesempatan itu datang.” Ia menghentikan panggilan itu setelah selesai mengucapkannya.
Ketika ayam pertama berkokok, Azka belum tidur sedetik pun. Ia hanya membeku di depan mejanya. Ia melirik ke tumpukan kertas yang telah ia corat-coret, kemudian melihat halaman demi halaman. Segeralah ia beranjak, membangunkan kedua temannya.
Seperti biasa, mereka bangun masih dengan kantuk. Mereka meregangkan tangan, kemudian bangkit. Matanya berkedip dengan lambat.
”Teman-teman, ada yang ingin aku bahas. Professor Fadhlan akan datang. Kita terlambat. Dia tahu tentang tempat itu dan dia pasti akan menggalinya.”
”Professor Fadhlan? Si ambisius itu?” kata salah satu temannya.
”Ya. Aku ingin kalian ...” Azka pun mengutarakan rencana yang telah ia susun matang semalaman. Kedua temannya mendengarkan dengan sungguh-sungguh, seolah mendengarkan sang jendral yang menyusun strategi perang. Ketika jarum jam bergerak sekitar enam puluh derajat, pembicaraan yang diselingi beberapa sesi tanya jawab itu selesai. Kedua temannya itu pun keluar, memulai rencana, sementara Azka menuju dapurnya.
Ia memasak air, kemudian mengambil dua buah cangkir dan meletakkannya di atas nampan. Secendok gula ia masukkan di masing-masing cangkir itu, kemudian menuangkan air yang telah matang dan mencelupkan teh padanya. Kembali ke ruang tamu, ia meletakkan nampan itu di atas meja.
Setelah setengah jam duduk sendiri di sana, pintu terbuka. Tampak berdiri di sana pria tua berkaca mata dengan pakaian rapi.
”Masuklah, Professor. Jangan sungkan-sungkan.” kata Azka.
”Memang tidak.” katanya sambil melepas kaus kaki dan sepatunya, kemudian melangkahi pintu, duduk di seberang Azka tanpa izin terlebih dulu.
”Sang dewa yang orang-orang sebut hanyalah alien yang datang dari planet lain. Mereka meninggalkan baterai dengan energi yang sangat besar di bumi. Aku masih belum tahu alasannya. Aku yakin kau juga belum.” Ia kemudian meminum teh hangat di depannya.
”Baterai itu mengandung kekuatan yang melebihi nuklir. Lihat saja apa yang nuklir akibatkan di Chernobyl, Hiroshima, dan Nagasaki. Bayangkan apa yang bisa diakibatkannya.”
”Kau selalu melihat sesuatu dari sisi buruknya. Lihatlah sekarang, nuklir begitu bermanfaat bagi dunia, membangkitkan listrik dengan jumlah besar tanpa polusi. Batu Alpat bisa melakukan lebih dari itu.” Ia meletakkan cangkirnya. ”Azmi dan Acep, dua orang temanmu yang yang selalu setim. Kau juga setim dengan mereka saat ini, bukan?”
”Bagaimana dengan Anda sendiri, Professor? Orang jenius dan kaya yang memimpin berbagai proyek. Berapa agen yang Anda sewa? Tiga? Empat?”
”Sepuluh.” kata Professor, kemudian meminum tehnya lagi. ”Dan semuanya berpengalaman.” lanjutnya.
Azka berhenti meminum tehnya, meletakkannya kembali di atas nampan. Tangannya yang menggenggam handphone menekan-nekan layar touchscreen itu.
”Aku tidak main-main dalam hal ini, Ka. Akan ada banyak gangguan bagiku dalam proyek ini dan gangguan paling besar yang kuprediksi datang darimu, si jenius, tapi malas di kelas.”
”Begitu juga denganku, Professor. Aku tahu cepat atau lambat berita ini akan menyebar, dan Anda akan mendengarnya. Aku juga telah menyiapkan rencana, Professor. Kedua temanku itu sedang menjalankannya.”
”Ya, aku tahu itu. Apa yang kau rencanakan? Memata-matai proyekku dan menyabotasenya ketika mereka istirahat? Bagaimanapun, agenku akan menangkap mereka.”
”Sepuluh orang, ya. Aku benar-benar tak menduga. Kukira Anda akan meremehkan kami, seperti bagaimana Anda meremehkan orang-orang. Tapi, Anda memasuki rumah ini seorang diri. Apa Anda meremehkanku?”
”Kau meremehkanku dengan berkata bahwa aku meremehkanmu. Kita berdua sama-sama tidak bisa ilmu bela diri, Ka. Sepertinya akan lucu jika kita berdua berkelahi. Aku juga bukanlah pembunuh. Apa jadinya nanti jika polisi mengira aku adalah orang jahat? Lagipula, kau terlalu asyik untuk diajak berbincang-bincang.”
Bum! Suara ledakan terdengar dari kejauhan, menarik pandangan Fadhlan ke arah pintu. Wajahnya terlihat tidak senang. Tapi, Azka tidak.
”Skak.” kata Azka.
”Meledakkan proyek resmi seperti itu, kau bisa dianggap teroris. Kalau kau membunuh orangku, aku bisa melaporkanmu sehingga aku lebih leluasa. Kuda melindungi raja.”
”Aku siap meski harus dianggap sebagai teroris dan menerima hukuman untuk itu. Tapi, tidak. Aku tidak melukai satu pun orangmu. Mentri memakan kuda.”
”Pion memakan mentri. Hm... bom yang ditanam jauh di dalam tanah. Pasti temanmu yang memicunya. Agenku akan menemukan mereka lebih mudah. Kau kehilangan bidakmu.”
”Aku bergerak lebih awal, Professor. Beberapa pionku maju lebih dulu.”
Pintu lagi-lagi terbuka. Seorang pria dengan setelan hitam berdiri di sana. ”Pak, kami telah menangkap dua orang itu.” kata pria itu.
”Bagus. Bawa mereka ke kantorku.” kata Professor, kemudian pria itu kembali menutup pintu. ”Memajukan pion-pionmu membuat pertahananmu lemah. Terlalu banyak celah. Mentri menerobos, skak.”
”Jangan terlalu senang, Professor. Dan jangan pula berpikir mereka berdua temanku satu-satunya. Aku memiliki teman lain, dan mereka juga tidak bisa diremehkan. Teman-temanku ahli dan dapat dipercaya. Kuda memakan mentri.”
”Agen-agenku pun begitu. Bagaimanapun kau menyerang, aku bisa bertahan. Pion maju.”
”Kita terlalu banyak memajukan pion hingga mereka tidak bisa maju lagi, Professor. Bagaimanapun, Anda sudah tua dan cukup pelupa. Sepertinya Anda lupa di mana menaruh handphone Anda. Pion memakan pion.”
Sang Professor meraba saku celananya. Benar, handphone-nya tidak ada di sana. ”Itu dilindungi password. Pion memakan pion.” kata Professor.
”Ya, tapi Anda jarang mengubah password Anda, Professor. Password apa pun itu. Aku pernah menjadi mahasiswa Anda. Ketika aku mengunjungi kantor Anda, aku tahu bahwa Anda begitu menyayangi putri Anda. Tapi, dia meninggal ketika masih kecil. Password handphone itu terdiri dari delapan digit. Lima April 1990 adalah tanggal lahirnya dan kemungkinan passwordnya. Benteng maju, dilindungi kuda.”
Sang Professor tersentak. Tak sedikit pun senyum tersisa di wajahnya. Ia terdiam beberapa saat, entah merasa terpojok atau justru teringat pada seseorang yang Azka sebutkan. ”Agenku akan menyita handphone itu ketika menangkap mereka. Benteng maju.”
”Ya, aku telah memprediksi hal itu. Mereka berpengalaman, dan tentu saja tidak ceroboh. Tapi, begitu juga denganku. Apa Anda tidak ingat soal temanku yang lain? Handphone itu diserahkan pada mereka terlebih dulu untuk diproses lebih lanjut. Benteng bergerak.”
”Benteng bergerak melindungi raja.” kata Professor singkat, seolah kehabisan kata.
”Kuda bersiap dalam posisi. Aku tahu beberapa dokumen penting pasti ada di kantormu. Azmi dan Acep memotretnya ketika agenmu pergi, lalu mengirim ke temanku.”
”Kamera mini yang kau ciptakan itu?” Sang professor memberi senyum kecil. ”Tentu saja, aku ingat. Tapi, sepertinya gerakanmu selama ini tak ada artinya.” Professor Fadhlan mengangkat tangannya yang selama ini ia sembunyikan di bawah meja.
Azka terperanjat melihat Professor Fadhlan masih memiliki handphone lain.
Professor pun mengutak-atik handphone itu. Namun, ketika itu, handphone-nya berdering dan ia segera mengangkatnya. ”Apa!? Tidak mungkin.” katanya di tengah-tengah pembicaraannya di handphone. Ia pun beranjak dari tempat duduknya dan tergesa-gesa keluar dari rumah itu.
Melihat itu, Azka juga bangkit. Wajahnya dilanda kebingungan. Padahal, Professor hampir menang. Tapi, kenapa dia bertingkah seperti itu? Jalan cepat, ia mengejarnya.
Di tengah perjalanannya, seseorang menyeret lengan Azka menuju balik semak-semak. ”Azmi, Acep, apa yang terjadi? Bagaimana kalian bisa meloloskan diri?” tanyanya begitu menyadari kedua temannya.
”Azka, kau takkan percaya apa yang kami lihat.” kata Azmi dengan napas tersengal-sengal. ”Salah satu agennya menyerang agen lain hingga mereka berjatuhan. Ia kemudian mengambil sebuah koper hitam dari ruangan itu, kemudian pergi begitu saja. Kami mencoba membebaskan diri, kemudian kami mengikutinya. Ia memasukkan sesuatu ke dalam koper itu. Sesuatu yang berkilau.”
”Lalu, dia pergi ke sebuah lapangan yang luas.” sambung Acep. ”Dan dia ...”
Setibanya di air terjun terbalik, Professor Fadhlan mendapati kerusakan di mana-mana. Tak hanya itu, air itu kini mengikuti hukum biasanya, mengalir dari atas ke bawah. Ekspresi tidak senang menghiasi wajahnya.
Tiba-tiba, sekelompok pria berseragam mengepung Professor dan orang-orangnya. Ekspresinya lebih buruk dari sebelumnya melihat mereka semua menodongkan senjata. Ia terpaksa mengangkat tangannya seraya memejamkan mata.
”Professor, Anda ditahan dengan tuduhan melakukan penggalian secara ilegal; merusak alam, meledakkannya dengan bom.” kata pemimpin mereka.
***

Di sebuah lapangan yang luas, seorang pria dengan setelan dan kaca mata hitam menjinjing sebuah koper hitam besar. Awalnya, tak jelas apa yang ditujunya. Tapi kemudian, sesuatu yang awalnya transparan menampakkan wujudnya. Tampak seperti pesawat, tapi desainnya aneh. Tak seorang pun di bumi mengenalnya. Pria itu masuk ke dalamnya, kemudian pesawat aneh itu melayang sambil sedikit demi sedikit kembali ke keadaan transparan.

0 Komentar:

Posting Komentar

Who am I

Arsyad M. D.
amdzulqornain@gmail.com