Kamis, 02 Maret 2017

Malam-malam Kunang-kunang

Kau masih tidur nyenyak? Semoga begitu. Karena wallpaper hari ini masih hitam. Hari pun perlu charging. Dengan bintang-bintang bunting, mungkin terbanting. Siapa tahu? Mungkin salah satu pecah saat itu. Tapi cahaya perlu waktu untuk memberimu kabar. Ia tak akan berkata, “Aku meledak.” Bersyukurlah. Dan awan bersiap menadah, barangkali ada yang jatuh. Biarkanlah begitu. Karena yang paling penting sekarang, tidurmu nyenyak. Kau tahu kenapa? Aku akan menunjukkan pintu surga padamu esok hari.
“Surga? Surga dan neraka hanyalah mitos untuk menakut-nakuti anak kecil, bahkan orang-orang dewasa yang bodoh untuk mengendalikan pikiran mereka.” Aku ingat kata-katamu waktu itu. Jiwa terpisah dari raganya kemudian mengapung menuju langit. Tak ada yang melihatnya. Sementara sang jiwa akan melihat pintu surga dan neraka. Dan semua orang percaya saja. Selain dirimu. Kau akan bertemu seseorang, bisikku.
Kau kembali dengan bercucur peluh, mendaki tangga yang beranak dua puluh mati satu. Menuju gubukmu itu, seperti setiap hari. Gubukmu yang meminjam tempat pada dahan-dahan tak berdaun itu. Cukup kokoh. Kayu-kayu itu menyayangimu. Tak pernah ada yang merengek minta diganti atau apalah. Kau selalu ada ketika mereka membutuhknmu. Mereka menghangatkanmu, memelukmu.
Pedang di kanan, keris di kiri. Seperti Diponegoro. Hanya perlu ditambah kuda. Orang-orang itu, yang kehilangan kantuknya, juga memegang senter, beberapa obor. Berkumpul seperti anak sekolah mengerubungi pengumuman nilai ujian. Apakah mereka menunggu kuda? Tapi yang datang bukan kuda, melainkan anjing dua ekor. Satu lengan menyodorkan potongan kain. Anjing-anjing membauinya. Kemudian keduanya memasuki hutan gelap itu. Tak perlu khawatir. Anjing-anjing tahu jalan pulang. Tak seperti makhluk-makhluk berkaki dua itu, yang mungkin lenyap di dalam sana.
Hutan bengis, malam-malam menangis. Orang sebut itu sarang iblis. Tiga orang pergi, dua orang tak kembali, satu kembali, lalu mati. Subuh, ada yang tumbuh, ada yang rubuh. Pagi berkabut, malam juga berkabut, terkadang. Malam-malam dramatis, malam-malam nokturnal, malam-malam kunang-kunang. Bagaimana kunang-kunang bisa bercahaya sementara manusia tidak?
Kau masih meneguk minum melegakan kerongkonganmu. Sementara barang yang kau bawa tadi – yang ada dalam sarung – kau letakkan di atas meja.
“Barang ini bagus. Tak seperti biasanya. Dapat dari mana?”
Minumanmu tertahan. Fluida kurang tekanan untuk mengalir memasuki rongga mulutmu. Tapi kau tak terlihat takut. Atau setidaknya kaget. Kau menoleh untuk mendapati wujudnya. Wujud seorang manusia bercahaya itu. Seorang perempuan, seusiamu. Lalu kau memelototi pintumu yang masih terbuka. “Aku tidak tahu kenapa kau tiba-tiba di sini. Dan aku tidak akan kaget. Tapi bisakah kau setidaknya mengetuk sebelum masuk?”
“Kalau dijual, pasti harganya mahal. Orang-orang tidak akan menjualnya karena ini barang pusaka yang tidak ternilai harganya. Tapi, kau bisa menjualnya mahal karena keris ini platinum. Kau tahu? Platinum tidak berkarat dan massa jenisnya lebih besar daripada emas. Tapi mengambil barang yang bukan milikmu, orang-orang sebut tindakan setan. Tapi, apa setan itu?”
Kau tak bergerak, bahkan berkutik. Entropi dalam kepalamu meningkat, melebihi semesta. Kemungkinan pertama, kau berhadapan dengan perempuan tuli. Mungkin gila. Atau kau meminum sesuatu hari itu? Atau mencium bau aneh? Tidak, kau menolak kemungkinan itu. Ya, kemungkinan kedua. Mungkin semacam narkotika yang tak sengaja merasuki pikiranmu. Kau tak tahu. “Kau tahu kenapa sandal ini ada?” Kau mengangkat sandalmu, sehingga kini – dalam satu teorimu – berhasil ia dengar. “Sandal ini ada, karena aku bisa menggunakannya untuk melemparmu.” Kau pun melempar tepat ke wajahnya.
Masih saja menatapmu. Tak berubah sedikit pun. Sandalmu mengena, tapi tak menyentuh. Menembus. “Wah, pemikiran yang menarik.” Ia tersenyum ceria. “Lagipula, kalau setan itu ada, semua orang pasti telah mengikatnya, lalu mengaraknya ke seluruh desa, ya kan? Ia akan dilempari sandal oleh semua orang yang melihatnya hingga mati.”
Lagi-lagi kau bergeming. Kau mendalami wujud manusia itu. Benarkah narkotika? Dia tak benar-benar ada. Buktinya sandal itu tak menyentuhnya. Bukti terkuat, saat ini. Tapi jelas-jelas ia berwujud. Bahkan bersuara. Manusia, perempuan. Bercahaya, kunang-kunang. Sumber cahaya dan suara. Hanya materi yang bisa. “Siapa namamu?” kau mendekat. Kau hendak mengangkat tanganmu, tapi untuk apa? Kenapa orang harus repot-repot memegang tangan orang lain untuk berkenalan? Kalau berkenalan dengan tos, sepertinya lebih seru. Tapi kau tak berminat mencobanya.
“Aku adalah cahaya.” bisiknya. “Cahaya yang akan menerangi hidumu. Sinar yang akan menunjukkanmu ke jalan yang benar.” Cahaya. Memang itu yang selalu terbisik dalam hatimu ketika melihatnya. Kunang-kunang. Kau bisa memanggilnya manusia kunang-kunang. Tidak. Perempuan kunang-kunang lebih baik. Serima. Malam-malam kunang-kunang. Dua tangan bersalaman. Tak menembus. Bagaimana bisa?
“Menunjukkan jalan benar? Seperti kau akan menunjukkan jalan ke surga? Dan cara menghindari iblis?”
“Surga? Neraka? Kau masih ragu pada pikiranmu? Kau sebaiknya beralih pada sesuatu yang lebih nyata. Seperti keadilan. Yang bergerak pada dunia yang menuju entropinya. Mereka menuju kesetimbangan. Kemudian, kita menarik deduksi dari semesta. Konsekuensi. Apa yang kau lakukan ada timpal baliknya.”
“Kau bilang aku akan mengalami kesialan karena telah mengambil barang orang? Kupikir aku menyelamatkan benda itu. Aku bisa membuatnya menjadi lebih berguna, menghasilkan uang. Sementara orang-orang itu hanya meletakkannya dalam kotak kaca dan mengerubunginya sehari sekali, mengucapkan hal-hal bodoh. Benda itu membodohi mereka.”
“Bukan begitu cara kerja sistem.” tangannya beralih pada pipimu. “Setiap hal dijaga untuk perdamaian. Tindakan di luar sistem hanya akan merusak perdamaian itu. Anjing-anjing mengejarmu. Kemudian yang ada hanya kekacauan. Ketidakadilan. Benda itu harus kembali ke tempat asalnya. Mereka tak pernah mengusikmu, bukan?” tangannya lembut merayap pada pipimu. Kini kepalamu tak mengikuti kehendak semesta. Matanya terlalu dekat menatapmu. Terlalu dalam. Kau pun melihatnya. Tak ada yang seindah itu sebelumnya. Kuning kerlap dan kuning kerlip. Tak menyilaukan seperti matahari. Kau tak merasakan apalagi kala itu. Bahkan tanpa kau sadari bibirnya mengecup keningmu. Lalu raga itu berubah menjadi percik-percik kuning kecil. Seperti kunang-kunang.
Sementara pikiranmu saling beradu, dua pasang mata menyala mendapati singgasanamu di puncak pohon tua. Nyala itu menghilang.
“Maski hatinya mengikuti entropi semesta, dia sebenarnya tahu siapa Tuannya. Seperti dirimu, namun kau terlalu dungu.” kata cahaya putih. Dua cahaya bercakap di atas awan.
“Setidaknya ia akan segera mati. Dan ia mati dalam kehendakku. Hanya ada kegelapan di hati. Kemudian datang cahayaku. Ia pasti akan datang sendiri. Seperti bagaimana orang-orang itu datang padaku.” kata cahaya merah.
“Kau hanya suka dipuja. Padahal kau sendiri tahu di mana tempatmu nanti. Cahaya itu menuntun mereka pada bara. Menjebak, mengelabuhi, meracuni. Masih ada harapan padanya. Tak sepertimu, ia masih tahu diri.”
“Bukan tak tahu diri. Kaulah yang tak punya harga diri. Mereka akan segera mati. Tak seperti kita yang abadi. Cahaya kita masuk melalui celah di hati. Meski itu bara, tetap saja menerangi.”
Kau tak seperti biasanya pagi ini. Terlalu pagi. Apa kau sudah memutuskan pilihanmu? Kau tak bicara, tapi sikapmu memberitahu begitu. Keris itu kau putar-putar semalaman. Kau perhatikan saja. Kini ia kembali ke sarungnya. Ke mana kau akan membawanya?
Ragamu berdemo akan kediktatoranmu. Sudahlah, kau terlalu memaksa mereka bekerja semalaman. Kini kau hanyut di perjalanan. Tenggelam dalam cerita pengantar tidur dari pepohonan. Namun benda mencolok di depanmu menyita matamu lagi. Katak berwarna menyala. Apa ia penghuni baru di sini? Selama kau tinggal, kau tak pernah mendapati wujud seperti itu. Mungkin ia datang bersama si perempuan kunang-kunang di malam kunang-kunang. Begitu cantik. Ia melompat ke tanganmu yang sengaja mendekat. Kemudian ia melompat naik, hingga menempel ke lehermu. Dan titik api muncul. Tanpa api. Membakar tanganmu begitu saja. Merayap, menggerogoti, terlalu bernafsu hingga menggigit lehermu. Kau pakai semua air yang ada untuk membasuh mereka semua. Masih terlalu panas. Mungkinkah ini api neraka yang tak pernah padam? Kau terpejam begitu saja.
Dan kau kembali. Kau belum berada di neraka. Kalau kau ada di neraka, kau takkan bisa mendaki lagi. Lelaki tua itulah yang menarikmu dari kegelapan. Yang tangan keriputnya mengoleskan sesuatu entah apa pada lehermu. Iakah yang menghilangkan api itu?
“Belum saatnya.” kata si lelaki tua.
“Kau tidak tahu kapan aku mati. Tapi, terima kasih. Apa itu tadi?”
“Begitu cantik. Kau bisa memelihara dua. Kemudian beranak dua puluh yang masing-masing beranak dua puluh. Rumahmu akan indah warna-warni. Tapi kau akan segera mati. Bila setan berwujud menyeramkan, warga desa akan menangkapnya, megikatnya, lalu melemparinya dengan sandal hingga mati. Setan akan mewujudkan diri sebagai sesuatu yang cantik. Karena ia butuh pelanggan. Seperti katak cantik itu. Lucu, warna-warni, melompat-lompat, menggemaskan. Setelah kau dekat dengannya, ia menarikmu dalam kegelapan.”
“Apa semua itu benar adanya? Setan itu benar-benar ada? Itu hanya bentuk imajinasi manusia. Tidak, tidak. Aku telah melihat sesuatu yang seharusnya tak nyata. Sesuatu yang tak tersusun dari materi. Bukan dari realita. Aku sengaja tak tidur semalaman agar dapat memastikan kalau itu bukan mimpi. Dia begitu cantik. Dan dia berkata untuk menunjukkan jalan yang benar padaku sebagai cahaya. Itu hal yang benar, bukan?”
“Kau memiliki kesimpulanmu sendiri. Apa akal itu ada? Kau tidak bisa melemparkan akalmu seperti sandal, tapi kau bisa menggunakannya untuk berpikir. Dan alasan kenapa kau memilikinya adalah untuk membuat kesimpulan. Mengembalikan barang yang kau curi, semua orang setuju dengan itu. Bayangkan semua pencuri sepertimu. Lalu mereka bisa melakukan ritual mereka lagi, seperti biasanya. Mereka mengerubungi keris itu, lalu memuja-mujanya. Mereka terpana olehnya. Keris itu memberikan kecantikan tersendiri. Mereka bahkan rela memasuki hutan yang mereka takuti untuk menemukannya. Ngomong-ngomong, lihat. Katak itulah yang menyebabkan tidurmu. Setanmu. Apa kau akan membunuhnya?”
Kau berpaling, iba. “Tidak. Ia hanya menggunakan mekanisme pertahanan dirinya. Ia tak memiliki akal untuk mengetahui apakah aku memiliki niat jahat atau tidak. Bahkan manusia juga tak mengetahuinya. Ia ingin tetap hidup dan ia berhak untuk itu.” Ketika menatapnya, lelaki itu kini tiada. Tak menjadi kunang-kunang, tak meninggalkan jasad layaknya materi. Lenyap begitu saja.
Lagi-lagi isi kepalamu menuju entropinya. Bodoh, membodohi, kebodohan, pembodohan. Itulah manusia dalam benakmu. Segala ketaknyataan menerobos batasnya memasuki kenyataan. Dan kau teringat iklan. Berdesis. Kini kau tak peduli, namun ia tetap menanti. Hanya sampai situlah iklan. Beda dengan orang-orang itu. Mereka sampai rela menyerahkan nyawa mereka demi keris platinum. Iklan kelewat batas. Bukan lagi iklan. Pembodohan. Jika setan ada dan malaikat realita, berarti surga dan neraka bukan fiksi belaka dan pasti ada pemiliknya.
Kunang-kunang di langit masih gemerlap. Dalam gelap. Dan nyala dua pasang muncul. Mendekat. Anjing-anjing kembali. Kau tahu pasti itu pertanda apa. Kau memanjat segera. Pohon itu, yang rendah dahannya. Anjing-anjing mencakar kakimu, menggigit. Mereka masih menggonggongimu sementara kau mengelap luka di atas dahan itu. Dahan jatuh, rubuh. Melempar satu tubuh, menimpa dua tubuh. Kau nyeri, anjing-anjing tak bisa berdiri. Kau mengangkat dahan itu. Mengapa? Barangkali sama dengan pembelaanmu pada sang katak. Ia ingin hidup dan ia berhak untuk itu. Anjing-anjing berlari.
Orang-orang masuk hutan. Padahal kala ini berkabut. Mereka membawa gergaji dan tali. Satu tim bekerja, satu tim menonton. Mengamati, sesekali menyemangati. Satu gores, dua gores, tiga gores. Pohon tua akhirnya rubuh. Rumahmu yang setia runtuh.
Kau mengelana kabut. Semerawut. Kau tahu yang kau tuju, semoga. Katika terik, kabut sudah menghilang. Dan kau memandang sebuah jurang dalam. Kau masih terjebak dalam pilihan. Pikiran. Benda itu mengacaukan entropi kepalamu. Kau harus membuangnya, kau harus membuangnya. Daripada terjebak dalam pilihan yang melarutkan. Kau melemparnya dalam jurang, membiarkannya terpendam oleh mekanisme alam. Bisa menjadi temuan seribu tahun nanti.
Malam hari, kau tidur di atas dahan. Kau berusaha menuntaskan pikiran itu. Entropi. Pilihan-pilihan memunculkan teori. Dan akalmu membuat kesimpulan. Kau terlelap.
“Manusia membuat pilihan. Manusia menyimpulkan. Kita hanya bisa memberikan bisikan.” kata cahaya putih. Masih di atas awan.
Cahaya merah berpaling, pergi.

Bandung,
2 Maret 2017

0 Komentar:

Posting Komentar

Who am I

Arsyad M. D.
amdzulqornain@gmail.com